FILSAFAT UMUM

IMAM AL-GHAZALI

 

 

  1. A.      Sekilas Tentang Imam Ghazali

Muhammad Abu Hamid Ghazali di lahirkan pada tahun 450 H di kota Thusi, termasuk dalam propinsi Khurasan.  Sepanjang masa hidupnya (450-505H atau 1058-1111M), dia menghasilkan ratusan karya tulis. Dan karya tulis yang masih ada sampai sekarang sebanyak 78 buah. Ia mempunyai seorang saudara laki-laki yang bernama Ahmad. Ahmad merupaka tokoh terkemuka dala kancah filsafat dan tasawuf.[1]

Ayah mereka adalah seorang pengrajin kain shuf, sejenis kain yang terbuat dari kulit domba. Mejelang wafat ia menitipkan penjagaan aaknya pada seorang sahabat sambil berkata “sungguh saya menyesal tidak belajar khat(tulis enulis arab) dan saya ingin memperbaiki apa yang telah saya alami pada kedua anak saya ini. Maka saya mohon egkau mengajarinya dan harta yang saya tinggalkan boleh dihabiskan untuk keduanya”.

Setelah ayah Ghazali meninggal, maka teman ayahnya tersebut mengajarinya ilmu hingga habislah harta peninggalan yang sedikit tersebut. Kemudia, dia meminta maaf karena tidak dapat melanjutkan wasiat orang tuanya karena sebenarnya ia pun hanyalah seorang yang fakir.  Dan ia menganjuran Al-ghazali dan Ahmad untuk masuk ke madrasah karna dengan demikian mereka akan mendapat makanan yang cukup. Mereka mengikuti saran tersebut dan mereka sangat bahagia. Hingga akhirnya mreka bisa mewujudkan harapan orangtuanya.[2]

  1. B.      Pengaruh Filsafat Dalam Dirinya

Filsafat sangat berpengaruh dalam diri Ghazali. Beliau menyusun buku yang berisi celaan terhadap filsafat, seperti kitab At Tahafut yang membogkar kejelekan filsafat. Namun pada beberapa hal yang disangkanya benar, ia menyetujuinya. Ini terjadi karena ia melakukan itu tanpa didasari dengan ilmu atsar dan keahlian dalam hadst-hadist nabi.

Demikianlah Imam Ghazali dengan kejeniusannya dan kepakarannya dalam fikih, tasawuf dan ushul, tetapi sangat sedikit pengetahuannya tentang ilmu hadist dan sunnah rasul. Sehingga beliau menyukai filsafat dan masuk ke dalamnya hanya dengan meneliti dan membadah karya-karya Ibnu Sina.

  1. C.    Tingkatan-tingkatan Ilmu Pengetahuan Menurut Imam Ghazali

Ghazali berkata bahwa kemahiran dalam ilmu pengetahuan Islam merupakan kewajiban setiap orang yang beriman.  Ilmu pengetahuan yang wajib adalah Alquran dan As-sunnah dan tipe pengajaran lainnya.

Dalam perjalanan hidupnya Ghazali mengelompokkan ilmu pengetahuan dalam bidang yang agamis. Ilmu pengetahuan merupakan warisan para nabi, yang dapat di buktkan dan di periksa dengan ukuran akal dan kebijaksanaan Nabi.

Selanjutnya  tipe belajar yang positif untuk pemahaman di bagi dalam empat kelas:

1)      Asli

2)      Pendukung

3)      Berhubungan dengan pembukaan

4)      Tambahan[3]

Tipe belajar yang asli memberi kemampuan untuk memperoleh ilmu pengetahuan tentang realita.  Ghazali berkata apabila tidak ada sesuatu yang halal yang bisa dimakan, maka seseorang terpaksa memakan daging babi. Hanya sebatas untuk keperluan bertahan hidup. Dengan demikian, ilmu –ilmu lain selain ilmu realita juga harus di pelajari sebagai pemenuhan kebutuhan dasar hidup tertentu. Sedangkan ilmu realita  harus di cari sampai akarnya.

Pelajaran pendukung adalah pelajaran yang berkenaan. Contohnya dalam bidang hukum, adanya ahli fiqh atau qadhi untuk menyelesaikan masalah sengketa dan membimbing mereka ke jalan yang benar.

Tipe ilmu pengetahuan yang bersifat pengantar atau bersifat pendahuluan adalah pengetahuan yang betul-betul  inti bagi yang pemahaman yang dalam, menyeluruh dan pasti tentang kitab sucinya.

Yang terakhir adalah tambahan bagi tiga  tipe pelajaran pertama.  Dan semua ini harus selaras dalam mengaplikasikannya.

Ghazali berpendapat bahwa bahwa pencerahan batin atau ilmu pengetahuan diri tidak mungkin bagi orang-orang yang tidak bermoral, angkuh dll. Jadi seseorang harus menempa dirinya agar tidak terfokus pada materi, hal-hal yang dilarang agama dan mampu mengekang atau mengendalikan amarahnya,  bersikap sederhana dan bersahabat dengan siapa saja. Dan hal yang paling penting adalah tetap berpedoman pada ilmu yang terdapat dalam alquran dan sunnah.  Sehingga antara ilmu dan agama dapat diseimbangkan.

Jadi belajar yang tidak putus-putus dan beribadah yng kontiniu adalah salah satu sarana yang mungkin untuk pencerahan dirri, pencapaian kedekatan dengan tuhan dan meningkatkan kualitas ilmu.  Menurur Ghazali kualitas ilmu seseorang dapat dilihat dari hasil yang disumbangkan untuk pperbaikan perseorangan ataupun kelompok social.

  1. D.     Kritikan Alghazali Terhadap Filsafat

Dalam beberapa karyanya Alghazali menentang pemikiran para filosof, hal tersebut termuat dalam karyanya Tahafutul Falasifah dan Al-Munqidz min ad-Dalal. Bahkan Alghazali juga mengkafirkan mereka.

Ada dua puluh hal yang di tentang Alghazali, namun ada tiga yang paling sering disebut-sebut, dan tigs hal tersebut adalah:

  1. Tentang Qadimnya Alam dan Keazaliannya

Menurut filsof alam itu Qadim, sedangkan menurut Alghazali alam itu baru. Dan tentang  keazaliannya, Alghazali berpendapat bahwa keazalian alam  itu terserah kepada Tuhan semata-mata, mungkin saja alam  itu terus menerus jiika memang itu kehendak Tuhan.[4]

  1. Tentang Pengetahuan Tuhan

Filsof mengatakan bahwa pengetahuan  Tuhan terbatas pada hal-hal yang besar saja. Sedangkan Alghazali berpendapat bahwa pengrtahuan Tuhan itu menyeluruh.[5]

  1. Tentang  Kebangkitan di Akhirat

Menurut filsof yang di bangkitkan d akhirat itu hanya rohani saja sedangkan menurut Alghazali, tidak hanya rohani saja tapi jasmani juga.

Sebagian pengamat filsafat menyayangkan pemikiran Alghazali yang tidak berlandaskan sunnah, dan hanya melihat dari satu sisi saja. Karena apa yang ditentangnya dalam suatu kitab namun dibenarkannya dalam kitab yang lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Prof.Drs. Shafique Ali Khan, Filsafat Pendidikan  Alghazali 2005 (Bogor; CV.Pustaka Setia)

[2] Sahabatilmucenter.wordpress.com

[3] Ibid,75

[4] Drs.Sudarsono,SH. M.Si. Filsafat Islam.2004(Jakarta:Rineka Cipta)hal66

[5] Drs. Ahmad Syadali,M.A, Filsafat Umum 1997(Bogor; Pustaka Setia)

EVALUASI PENDIDIKAN

 BAB II

JENIS-JENIS TES HASIL BELAJAR

  1. A.      PENGERTIAN TES HASIL BELAJAR

Yang dimaksud dengan tes hasil belajar adalah sekelompok pertanyaan atau tugas-tugas yang harus dijawab atau diselesaikan oleh siswa dengan tujuan untuk mengukur kemajuan belajar siswa.

Jenis-jenis tes dapat digolongkan kedalam beberapa bagian diantaranya jenis tes berdasarkan penggolongan cara, pelaksanaan, isi dan tujuan dan pembuatnya.[1] Jenis-jenis tes berdasarkan cara pelaksanaannya terbagi kedalam tes tertulis, tes lisan dan tes perbuatan. Pada bagian ini akan dibahas jenis-jenis tes berdasarkan cara pelaksanaannya dan dititikberatkan pada tes tertulis.

 

  1. B.       TES TERTULIS

Dalam tes tertulis pertanyaan dan jawaban disampaikan secara tertulis. Tes tertulis dibedakan menjadi dua jenis, yaitu tes subjektif  (essay) dan tes obyektif.

  1. 1.      Tes Essay

Tes jenis ini biasanya berupa soal-soal yang masing-masing mengandung permasalahan dan menuntut penguraian sebagai jawabannya. Tes essay dibedakan menjadi dua, yaitu tes essay jawaban terbatas dan tes essay jawaban bebas. Tes essay  jawaban terbatas menuntut siswa memberikan jawaban satu atau dua kalimat dengan kata-katanya sendiri.[2] Contoh:

  1.  Tentukan volume tabung  jika diketahui panjang diameter 7 cm dan tinggi tabung 6 cm !
  2. Sebuah bak berbentuk balok berukuran panjang 100 cm, lebar 70 cm, dan tinggi 60 cm. Berapa liter bak dapat menampung air?

Kemudian tes essay jawaban bebas menuntut siswa menjawab berupa uraian yang panjang yang memerlukan analisa dan kreatifitas siswa yang lebih dalam memberikan jawaban.

Contoh: BENG CARI YO

Pada tes essay ciri-ciri pertanyaan didahului dengan kata-kata seperti: uraikan, jelaskan, mengapa, bagaiamana, bandingkan, simpulkan, dan sebagainya. Soal-soal bentuk esai biasanya jumlah soalnya tidak banyak, hanya sekitar 5-10 buah soal dalam waktu kira-kira 90 s.d. 120 menit.[3]

  1. Petunjuk penyusunan tes essay

Agar soal tes essay yang disusun itu baik, maka kita perlu memperhatikan hal-hal berikut:

1)      Sediakan waktu yang cukup untuk menyusun soal.

2)      Soal-soal harus mengandung persoalan/masalah, karena tes essay itu bukan sekedar mengukur pengetahuan. Tetapi memerlukan proses mental yang tinggi.

3)      Masalah itu dirumuskan secara ekplisit (jelas).

4)      Hendaknya soal tidak mengambil kalimat-kalimat yang disalin lansung dari buku atau catatan.

5)      Pada waktu menyusun, soal-soal itu sudah dilengkapi dengan kunci/ancer-ancer jawaban serta pedoman penilaiannya.

6)      Hendaknya diusahakn agar pertanyaan bervariasi antara “jelaskan”. “Mengapa”, “mengapa”, “bagaimana”, “seberapa jauh”, agar dapat diketahui lebih jauh penguasaan siswa terhadap bahan.

7)      Petunjuk/perintah tes harus eksplisit/tegas.

8)      Di dalam tes essay tidak diberi kesempatan untuk memilih soal, karena:

(a)    Dengan memilih berarti spekulasi mulai berlaku

(b)   Untuk memilih soal yang mana yang mudah, memerlukan waktu, sehingga dapat mengurangi waktu untuk mengerjakan tes.

(c)    Sukar memberi angka, karena sukar membandingkan jawaban murid yang satu dengan yang lain.

  1. Cara memberi angka/menilai tes essay

Untuk menilai tes essay harus memperhatikan beberapa hal, yaitu:

1)      Terapkanlah dengan tepat faktor-faktor apa yang seharusnya diukur.

2)      Diperiksa nomor demi nomor dengan menggunakan kunci jawaban.

3)      Untuk mengatasi pengaruh faktor subjektif

a)      Sebelum diperiksa nama-nama murid pada kertas jawaban dan diganti dengan kode.

b)      Hindarkan pengaruh faktor luar seperti: tulisan, kebersihan kertas pekerjaan dan lain-lain.

4)      Nilailah dengan dua orang pemeriksa[4]

Pemberian skoring bisa digunakan dalam berbagai bentuk, misalnya skala 1-4 atau 1-10 bahkan bisa pula skala 1-100. Namun yang paling umum dugunakan adalah 1-4 atau 1-10. Dengan demikian guru tidak memberi angka nol untuk jawaban yang salah. Gunakan bobot nilai dalam memberikan nilai terhadap jawaban siswa. Bobot nilai bisa menggunakan skala 1-10. Misalnya untuk soal kategori mudah diberi bobot dua, soal kategori cuku diberi bobot tiga, dan soal kategori sulit diberi bobot lima hingga sepuluh.[5]

  1. Kebaikan tes essay

1)      Dapat mengukur proses mental yang tinggi

2)      Dapat mengembangkan kemampuan berbahasa

3)      Dapat mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat

4)      Mengembangkan keterampilan pemecahan masalah

5)      Memerlukan sedikit waktu untuk menulis soal

6)      Mudah disiapkan dan disusun

  1. Kekurangan tes essay

1)      Kadar validitas dan realibilitas kurang karena sukar diketahui segi-segi mana dari pengetahuan siswa yang betul-betul telah dikuasai

2)      Cara memeriksanya banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur subjektif

3)      Pemeriksaannya lebih sulit sebab membutuhkan pertimbangan individual lebih banyak dari penilai

4)      Waktu untuk mengoreksinya lama karena tidak dapat diwakilkan kepada orang lain

2. TES OBJEKTIF

Tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif.siapapun yang mengoreksi jawaban tes objektif hasilnya akan sama. Hal ini memang dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dari tes bentuk esai. Tes objektif sering juga disebut tes dikotomi (dichotomously scorred item) karena jawabannya antara benar atau salah dan skornya antara satu atau nol. Tes objektif menuntut peserta didik untuk memilih jawaban yang benar diantara kemungkinan jawaban yang telah disediakan, menberikan jawaban singkat, dan melengkapi pertanyaan atau pernyataan yang belum sempurna. Tes objektif sangat cocok untuk menilai kemampuan yang menuntut proses mental yang tidak begitu tinggi,seperti mengingat, mengenal, pengertian, dan penerapan prinsip-prinsip.

Kelebihan

  1. Lebih representatif dalam mewakili isi dan luas bahan, dapat menghindari campur tangan unsur-unsur subjektif baik dari segi siswa maupun guru yang memeriksa
  2. Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya
  3. Pemeriksaanya dapat diserahkan kepada orang lain

Kelemahan

  1. Persiapan untuk menyusunya jauh lebih sulit dari pada tes esai, karena soalnya banyak dan harus teliti untuk menghindari kelemahan yang lain
  2. Soal-soalnya cenderung untuk mengungkapkan ingatan dan daya pengenalan kembali serta sukar untuk mengukur proses mental yang tinggi
  3. Banyak kesempatan untuk main untung-untungan
  4. “ kerja sama” antar siswa antar siswa dalam melaksanakan tes lebih terbuka

Cara mengatasi kelemahan

  1. Kesulitan menyusun tes objektif dapat diatasi dengan jalan banyak berlatih hingga mahir
  2. Menggunakan tabel spesifikasi untuk mengatasi kelemahan yang pertama dan kedua
  3. Menggunakan norma (standar) penilaian yang memperhitungkan faktor tebakan yang bersifat spekulatif

BENTUK BENTUK TES OBJEKTIF

  1. a.      Bentuk Tes Benar Salah (True-False, or Yes-No)

Bentuk tes benar salah (B-S) adalah pertanyaan yang mengandung dua kemungkinan jawaban, yaitu benar atau salah. Peserta didik di minta untuk menentukan pilhannya mengenai pertanyaan atau pernyataan dengan cara seperti yang diminta dalam petunjuk mengerjakan soal. Bentuk soal benar salah ini lebih banyak digunakan untuk mengukur kemampuan mengidentifikasi informasi berdasarkan hubungan yang sederhana. Dalam penyusunan soal bentuk B-S ini tidak hanya menggunakan kalimat pertanyaan atau pernyataan tetapi juga dalam bentuk gambar, tabel, dan diagram.

Macam macam  bentuk tes benar salah dari segi pola pengerjaaannya yaitu :

-          Tes benar salah bentuk pertanyaan

-          Tes benar salah yang menuntut alasan

-          Tes benar salah dengan membetulkan

-          Tes benar salah berganda

Kelebihan

  1. Dapat mencakup bahan yang luas dan pertanyaanya lebih singkat
  2. Mudah menyusunnya
  3. Dapat digunakan berlaki-kali
  4. Dapat dilihat secara cepat dan objektif
  5. Petunjuk cara mengerjakannya mudah di mengerti

Kelemahan

  1. Bisa membingungkan siswa
  2. Kurang dapat membedakan murud yang pandai dan murud yang kurang pandai
  3. Banyak masalah yang tidak dapat dinyatakan hanya dengan dua kemungkinan benar atau salah
  4. Hanya dapat mengungkap daya ingatan dan pengenalan kembali

Contoh:

1)      Bilangan bulat dioperasikan dengan bilangan bulat akan menghasilkan bilangan bulat (B-S)

2)      Kuadrat dari suatu bilangan asli lebih besar dari 20 (B-S)

3)      Selisih suatu bilangan dengan 23 lebih besar dari 10 (B-S)

  1. b.      Tes Pilihan Ganda (Multiply Choice Test)

Tes pilihan ganda terdiri atas suatu keterangan  atau pemberitahuan tentang suatu pengertian yang belum lengkap. Dan untuk melengkapinya harus memilih satu dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan. Tes  pilihan ganda terdiri atas bagian keterangan (stem) dan bagian kemungkinan jawaban atau alternatif (options).

Jenis-jenis tes pilihan berganda

  1. Dilihat dari segi bentuk-bentuknya stem soal-soal pilihan ganda bisa berupa

-          Pertanyaan dimana alternatif atau option nya merupakan kemungkinan- kemungkinan  jawabannya

-          Kaliamat tidek sempurna dimana option nya merupakan kemungkinan terusannya

-          Persoalan yang diungkapkan secar verbal, dengan gambar, grafik, denah dan sebagainya dimana optionnya merupakan pernyataan-pernyataan yang benar atau salah yang berasal dari persoalan gambar, grafik atau denah yang dimaksud

  1. Menurut kemungkinan cara menjawabnya dapat dibedakan ;

-          Variasi dengan satu jawaban benar persoal

-          Sejumlah jawaban benar akan tetapi salah satu diaantaranya paling benar persoal

-          Satu jawaban yang salah persoal

-          Penjawab menentukan sendiri apakah satu atau lebih optian yang benar dan memilih sesuai dengan itu untuk setiap soal

  1. Secara umum tes pilihan ganda dibedakan menjadi lima :

-          Tes pilhan ganda dengan menemukan satu-satunya jawaban yang benar

-          Tes pilihan ganda dengan memilih jawaban yang terbaik

-          Tes pilihan ganda dengan memilih lebih dari satu jawaban benar

-          Tes pilihan ganda dengan soal kalimat negatif

-          Tes pilihan ganda yang menggunakan gambar, bagan, peta dan lain-lain[6]

Contoh soal pilihan ganda:

1)      Bentuk baku dari 0,000072

(a)    72 x 10-6

(b)   7,2 x 105

(c)    7,2 x0,00001

(d)   7,2 x 10-5

2)      Luas daerah suatu bangun ditentukan dengan rumus 4ab-2b2. Apabila a=10 cm dan b=4 cm maka luas bangunan itu adalah

(a)    116 cm2

(b)    118 cm2

(c)    126 cm2

(d)   128 cm2

 

  1. c.       Tes Bentuk Menjodohkan (Matching)

soal tes bentuk menjodohkan sebenarnya masih merupakan bentuk pilihan-ganda. Perbedaannya dengan bentuk pilihan-ganda adalah pilihan ganda terdiri dari stem dan option, kemudian peserta didik tinggal memilih salah satu option yang paling tepat, sedangkan bentuk menjodohkan terdiri atas kumpulan soal dan kumpulan jawaban yang keduanya dikumpulkan pada dua kolom yang berbeda, yaitu kolom sebelah kiri menunukukkan kumpulan persoalan dan kolom sebelah kanan menunjukkan kumpulan jawaban. Jumlah pilihan jawaban dibuat lebih banyak dariapa jumlah persoalan

kebaikan soal bentuk menjodohkan, antara lain:

1)      Realatif mudah disusun

2)      Penskorannya mudah, objektif dan cepat

3)      Dapat digunakan untuk menilai teori dengan penemunya, sebab dan akibatnya, istilah dan definisinya

4)      Materi tes cukup luas

Adapun kelemahan soal bentuk menjodohkan adalah:

1)      Ada kecendrungan untuk menekankan ingatan saja

2)      Kurang baik untuk menilai pengertian guna membuat tafsiran

Untuk meyusun soal perlu diperhatikan hal-hal berikut ini:

a)      Buatlah petunjuk tes dengan jelas, singkat, dan mudah dipahami

b)      Sesuaikan dengan kompetensi dasar dan indikator

c)      Kumpulan soal diletakkan disebelah kiri, sedangkan jawabannya diletakka disebalah kanan

d)     Susunlah item-item dan alternatif jawaban denga sistematika tertentu. Misalnya, sebelum pokok persoalan didahului oleh stem atau bisa juga lansung pada pokok persoalan

e)       Seluruh kelompok soal dan jawaban hanya terdapat dalam satu halaman.

f)       Gunakan kalimat yang singkat, tepat dan jelas

g)      Jumlah alternatif jawaban hendaknya lebih banyak dari pada jumlah soal.[7]

Contoh:

Petunujuk: jodohkanlah pernyataan pada bagian A dengan jawaban yang tepat pada bagian B. Isikanlah jawaban guru pada titik-titik yang telah disediakan.

Bagian A:                                                                                           Bagian B:

  1. Nilai tengah                                                     ……….              a. Deskriptif
  2. Nilai rata-rata                                                  ……….              b. Kuartil
  3. Nilai yang paling banyak muncul                    ……….              c. Inferensial
  4. Menggambarkan keadaan                               ……….              d. Median
  5. Menyimpulkan                                                ……….              e. Mean
    1. Modus

d. Tes Jawaban Singkat (Short Answer) dan Melengkapi (Completion)

            Tes jawaban singkat yaitu tes tertulis yang menuntut siswa untuk mengisikan perkataan, ungkapan atau kalimat pendek sebagai jawaban terhadap kalimat yang tidak lengkap, atau jawaban atas suatu pertanyaan atau jawaban atas asosiasi yang harus dilakukan.

Sesuai dengan bentuknya terdapat tiga jenis tes jawaban singkat, yaitu:

1)      Bentuk pertanyaan dengan satu jawaban

Contoh:

(a)    Bangun datar apakah yang memiliki simetri lipat dan simetri putar yang tak terhingga?

(b)   Jika 2x + 4 = 6 maka berapakah nilai x?

2)      Bentuk kalimat tidak lengkap

Siswa tinggal mengisi satu jawaban yang dibutuhkan.

Contoh:

(a)    Bangun ruang kubus memiliki … rusuk dan … sisi.

(b)   6 x (…+2)=  (4 + 2) x (4+ 8)

3)      Bentuk asosiasi

Persoalan diajukan dalam bentuk pertanyaan dan kemudian diikuti (digabungkan) dengan kalimat-kalimat yang tidak lengkap dan siswa diminta untuk mengisi atau melengkapi kalimat tersebut.

Contoh:

Tulislah integral dari:

  1. Sin x                …………….
  2. Cos x               …………….
  3. Tan x               …………….

Kelebihan tes jawaban singkat:

1)      Mudah dalam penyusunannya, terutama untuk mengukur ingatan atau pengetahuan.

2)      Sedikit kesempatan untuk menduga-duga jawaban.

3)      Cocok untuk siswa kelas tingkat rendah.

Kelemahan tes jawaban singkat:

1)      Sukar untuk mengukur proses mental yang tinggi.

2)      Sulit menyusun soal yang hanya satu jawaban, lebih-lebih untuk proses mental yang tinggi.

3)      Sulit penilaiannya jika terdapat bermacam-macam jawaban yang benar.

4)      Cenderung hanya mengukur hafalan.

Petunjuk penyusunan soal tes jawaban singkat:

1)      Untuk soal hitungan guru hendaknya lebih spesifik terutama untuk jawaban

2)      Hilangkan kata-kata yang penting (fill in blank)

3)      Jangan terlalu banyak kata-kata yang dihilangkan

4)      Secara umum lebih baik yang berbentuk direct question dari pada incomplate statement

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Tes hasil belajar adalah sekelompok pertanyaan atau tugas-tugas yang harus dijawab atau diselesaikan oleh siswa dengan tujuan untuk mengukur kemajuan belajar siswa. Jenis-jenis tes berdasarkan cara pelaksanaannya terbagi kedalam tes tertulis, tes lisan dan tes perbuatan. Tes tertulis dapat dikelompokkan kedalam dua tipe yaitu tes tipe essay (uraian) dan tes tipe objektif.

  1. Tes essay ( uraian):

a)      Tes jawaban terbatas

b)      Tes jawaban bebas

  1. Tes objektif:

a)      Tes benar  salah

b)      Tes pilihan ganda

c)      Tes menjodohkan

d)     Tes jawaban singkat

DAFTAR PUSTAKA

 

Arifin, zaenal. 2009.Evaluasi pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya

Slameto. 1999. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Sudjana,nana. 1999. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya

Kuntoro, suharsimi.1999. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Surapranata, sumarna. 2005. Panduan Penulisan Tes Tertulis.Bandung: Remaja Rosdakarya


[1] Slameto, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta;PT. Bumi Aksara,1988),hlm 30

[2] Slameto, hlm32

[3] Suharsimi.arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan,(Jakarta; Bumi Aksara, 1999) hlm 162

[4] Slameto,hlm 39-40

[5] Nana Sudjana,Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar,(bandung;PT Remaja Rosdakarya,1989),hlm 41

[6] Slameto, Evaluasi Pendidikan,(Jakarta; Bumi Aksara,1999), hlm 59

[7] Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran(Bandung;PT Remaja Rosdakarya,2009),hlm 144

CONTOH LKS MATEMATIKA

MODEL PEMBELAJARAN

DENGAN PENDEKATAN KOOPERATIF TIPE STAD

 

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

 

Nama sekolah              : ………………………………..

Mata Pelajaran            : Matematika

Kelas/Semester            : VII/Satu

Alokasi Waktu            : 4× 40 menit( Dua kali pertemuan)

A.   Standar Kompetensi.

Menggunakan konsep skala dan perbandingan di dalam pemecahan masalah.

 

B.   Kompetensi Dasar.

Memahami pengertian skala dan perbandingan, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

 

C. Indikator Pencapaian Kompetensi.

1.      Siswa dapat memahami konsep tentang perbandingan dan skala.

2.      Siswa dapat menggunakan konsep perbandingan dalam menghitung faktor perbesaran dan pengecilan pada gambar berskala

3.      Siswa dapat menggunakan konsep perbandingan dalam memecahkan masalah di kehidupan sehari- hari.

4.      Siswa dapat memahami hubungan antara perbandingan dan pecahan.

5.      Siswa dapat memecahkan masalah yang melibatkan perbandingan seharga dan berbalik harga.

 

D. Tujuan Pembelajaran.

Setelah selesai mengikuti kegiatan pembelajaran diharapkan siswa dapat:

1.      Menjelaskan pengertian skala sebagai suatu perbandingan.

2.      Menghitung faktor perbesaran dan pengecilan pada gambar berskala

3.      Menerapkan konsep perbandingan dalam memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari

4.      Menjelaskan hubungan perbandingan dan pecahan.

5.      Menyelasaikan soal yang melibatkan perbandingan seharga dan berbalik harga.

E.   Kemampuan Prasyarat.

Kemampuan prasyarat yang seharusnya dikuasai siswa sebelum belajar kompetensi dasar ini adalah siswa sudah dapat memahami tentang operasi hitung pecahan.

 

F.    Materi Pembelajaran

Perbandingan.

G. Pendekatan dan Metode Pembelajaran.

1.Pendekatan pembelajaran Kooperatif tipe STAD.

2.Metode pembelajaran: ceramah, diskusi kelompok, penugasan, serta tanya jawab.

H. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran.

1. Kegiatan pendahuluan.

a.       Guru mengkomunikasikan tujuan belajar dan hasil belajar yang diharapkan akan dicapai oleh setiap siswa.

b.      Guru menginformasikan cara belajar yang akan ditempuh (pembelajaran kooperatif tipe STAD).

c.       Melalui  tanya jawab antara guru dan siswa, maka guru dapat  mengecek kemampuan prasyarat yang telah dimiliki oleh siswa (pengecekan kemampuan prasyarat terlampir).

2. Kegiatan inti.

    1. Guru memberikan informasi dengan metode pembelajaran langsung mengenai pengertian skala sebagai suatu perbandingan, pengertiann perbandingan,menghitung,faktor perbesaran dan pengecelan pada gambar berskala, penerapan konsep perbandingan dalam kehidupan sehara-sehari. Menyelasaikan soal yang melibatkan perbandingan seharga dan berbalik harga.
    2. Guru menginformasikan pengelompokan siswa (setiap kelompok terdiri dari 4 sampai dengan 5 siswa yang kemampuannya heterogen dan membentuk kelompok belajar dengan anggota tiap kelompok seperti yang telah diinformasikan guru.
    3. Guru membagikan bahan-bahan diskusi kelompok pada setiap kelompok untuk dikerjakan anggota setiap kelompok sedangkan guru memotivasi, memfasilitasi kerja siswa, membantu siswa yang mengalami kesulitan dan mengamati kerjasama tiap anggota dalam kelompok belajar.
    4. Siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok. Guru bertindak sebagai fasilitator.
    5. Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual.
    6. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok melalui skor penghargaan,berdasarkan perolehan nilai peningkatan individual dari skor dasar ke skor berikutnya setelah mereka melalui kegiatan kelompok.

3. Kegiatan penutup.

    1. Guru menunjuk siswa secara acak, untuk menyampaikan pengalamannya selama proses diskusi serta kuis yang diberikan baik secara individu maupun kelompok
    2. Guru meminta salah seorang siswa untuk menyimpulkan materi pembelajaran dari hasil diskusi yang telah dilakukan.
    3. Guru memberikan tugas atau pekerjaan rumah kepada siswa.

I.       Sumber Belajar

    1. Buku Matematika Jilid I kelas VII.
    2. Bahan diskusi dalam kelompok
    3. Kuis individual
    4. Pengecekan kemampuan prasyarat oleh guru
    5. Bahan pekerjaan rumah.

J. Penilaian Hasil.

    1. Penilaian hasil belajar siswa mencakup nilai aspek pemahaman konsep dari kuis individual yang dikerjakan setiap siswa.
    2. Nilai akhir kompetensi dasar(KD) = 50 % nilai kuis individual + 50 %  nilai pekerjaan rumah.
    3. Siswa yang nilai akhir Kometensi Dasarnya di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal(KKM) diberi fasilitas pembelajaran remedi dan dilakukan penilaian setelah pembelajaran remedi. Teknis pembelajaran dan penilaian setelah remedi disesuaikan dengan kondisi pencapaian hasil belajar siswa sekelas. Kemudian Nilai akhir Kompetensi Dasar (KD) ditentukan oleh hasil penilaian remedi terebut.

Lampiran: Bahan Materi Pengecekan Prasyarat

 

1.Tentukan hasil dari:

  1.  ´ 6
  2.  ´ 200
  3.  ´
  4.  ´

Jawab:

  1. ……………………………………………….
  2. ……………………………………………….
  3. ……………………………………………….
  4. ……………………………………………….

2. Sederhanakanlah bentuk pecahan dibawah ini!

  1. 1 :
  2. 2 : 1

Jawab:

  1. …………………………………………
  2. …………………………………………
  3. …………………………………………
  4. …………………………………………

Lembar Kerja Siswa

 

Topik                : Menggunakan konsep skala dan perbandingan di dalam pemecahan masalah

Kelas/semester: VII/Satu

Anggota Kelompok   :

1.

2.

3.

4.

5.

Petunjuk

  1. Pelajari Lembar Kerja Siswa tentang memahami pengertian skala sebagai suatu perbandingan serta penggunaannya dalam memecahkan masalah, secara berdiskusi dengan teman-teman sekelompokmu.
  2. Diskusikan dan bahas secara bersama soal- soal serta permasalahan yang ada pada kelompokmu, jika dalam kelompokmu menemukan kesulitan dan tidak menemukan jawaban dalam menyelesaikan permasalahan tersebut, coba  tanyakan pada gurumu.
  1. 1.        Pengertian skala sebagai suatu perbandingan

Pernakah kamu melukis sebuah lemari  yang ada di rumahmu? (……………………………………….), apakah ukuran panjang, lebar, dan tinggi lemari yang kamu lukis pada bukumu sama dengan panjang, lebar dan tinggi lemari sebenarnya?(………………………………………..), bagaimanakah cara kamu menentukan panjang, lebar dan tinggi dari lemari tersebut pada lukisanmu agar sesuia dengan ukuran lemari yang sebenarnya? (……………………………………………). Setelah kamu selesai melukis lemari tersebut dengan ukuran yang kamu sesuaikan dengan ukuran lemari yang sebenarnya, cobalah kamu bandingkan ukuran panjang, lebar, dan tinggi tersebut dengan ukuran panjang, lebar dan tinggi lemari sebenarnya, sehingga terbentuk suatu perbandingan antara ukuran pada gambar dengan ukuran yang sebenarnya.

Ukuran Pada gambar

Ukuran sebenarnya

Panjang
Lebar
tinggi

Kemudian tulislah dalam bentuk perbandingan di bawah ini!

  1.  =
  2.       =
  3.     =

Jadi dari percobaan atau permasalahan di atas apakah yang kamu ketahui tentang skala dan bagaimanakah menurutmu penulisan bentuk suatu perbandingan apakah sama dengan penulisan bentuk pada suatu pecahan?

Jawab:

………………………………………………………………………………….

Selanjutnya cobalah perhatikan contoh berikut!

Bumi adalah salah satu dari sembilan planet utama yang mengorbit mengelilingi matahari dalam sistem tata surya nama – nama planet menurut jarak terdekat dari Matahari adalah; Markurius,Venus,Uranus, Neptunus,dan Pluto. Jarak Markurius dengan Matahari adalah 36 juta mil. Apabila perbandingan jarak antara Matahari dan Bumi dengan perbandingan jarak antara Matahari dan Markurius adalah 12:31, maka berapakah jarak sebenarnya antara Bumi Dan Matahari?

Jawab:

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

  1. 2.        Perhatikan gambar di bawah ini

   WC

                 k. mandi

dapur               ruang makan

kamar tidur

kamar tidur utama                          ruang tamu

Gambar di atas menunjukkan denah sebuah rumah dengan skala 1:100.

dengan mengukur bagian-bagian dari denah, dengan menggunakan penggaris, tentukanlah ukuran sebenarnya dari:

  1. Ukuran rumah
  2. Luas rumah
  3. Ukuran ruang tamu
  4. 3.        Perhatikanlah pernyataan-pernyataan di bawah ini!
    1. Jika diketahui berat badan Saimah melebihi berat badan Fijra,dan berat badan Dian melebihi berat badan Saimah,maka apakah berat badan Fijra melebihi berat badan Dian?

Jawab:

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

  1. Pak Dian mempunyai dua orang anak yaitu Saimah dan Fijra, umur Fijra dua tahun dan umur Saimah dua tahun.maka berapakah selisih umur antara Saimah dan Fijra dan berapa kali umur Saimah kah umur Fijra?

Jawab:

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

  1. Dalam menyambut ulang tahun kelahiran anaknya,seoarang ibu memperkirakan untukmenjamu 24 orang membutuhkan beras sebanyak 6 kg.jika ibu itu ingin mengundang 36 orang,berapakah beras yang harus di sediakan oleh ibu tersebut?

Jawab:

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

  1. 4.        Perhatikan macam-macam perbandingan berikut
    1. Perbandingan seharga atau senilai

Perhatikan tabel berikut!

Banyak buku

Harga rupiah

Keterangan

1

21.000

Baris ke-1

2

42.000

Baris ke-2

3

63.000

Baris ke-3

4

84.000

Baris ke-4

Dari tabel di atas buatlah perbandingan antara banyak buku pada dua baris tertentu,dan juga perbandingan antara besar harga buku pada dua baris tertentu sepertiberikut ini!

  1. Perhatikan baris ke-2 dan baris ke-4

=……………………….

=………………………..

  1. Buatlah perbandingan antara baris ke-3 dan baris ke-4

=……………………..

=………………………

Berdasarkan jawaban kegiatan di atas, ternyata nilai perbandingan antara ………………………………….., dan antara………………………….,pada dua baris tertentu selalu…………………………..,maka perbandingan seperti itu disebbut…………………….

.

  1. Perbandingan berbalik hharga atau berbalik nilai

Perhatikan tabel berikut!

Kecepatan ( km/jam )

Waktu ( jam)

keterangan

40

6

Baris ke-1

60

4

Baris ke-2

80

3

Baris ke-3

120

2

Baris ke-4

Dengan menggunakan tabel di atas, buatlah perbandingan kecepatan pada dua baris tertentu, dan juga perbandingan waktu yang di perlukan pada dua baris tertentu!

  1. Perhatikan baris ke-2 dan ke-3

=……………….=…………………

=…………………

Maka, bilangan  merupakan kebalikan dari

  1. Berdasarkan cara seperti di atas,buatlah perbandingan bariske-2 dan ke-4

…………………………………..

……………………………………

…………………………………..

…………………………………..

Maka, berdasarkan kegiatan di atas buatlah kesimpulannya?

Jawab:

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Tes Individual

 

Kerjakan soal-soal berikut ini!

1)      Dua kota berjarak 120 km. Jika kedua kota itu di gambar pada peta dengan skala 1:800.000, tentukanlah jarak kedua kota tersebut terhadap peta!

Jawab:

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

2)      Sebidang tanah di gambar dengan skala 1:300, jika ukuran tanah pada gambar adalah 20 cm ´ 15 cm,tentukan luas tanah sebenarnya!

Jawab:

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

3)      Uang Nanang lebih Rp6.000,00 dari uang Dian, perbandingan uang Nanang dan uang Dian adalah 8:5,tentukanlah besar uang masing-masing!

Jawab:

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

4)      Tentukan nilai bilangan 120 setelah diperbesar dengan perbandingan berikut!

a)      6 : 8

b)      8 : 3

c)      20 : 17

d)     60 : 53

Jawab:

a)      ………………………………………………………………………………………………

b)      ………………………………………………………………………………………………

c)      ………………………………………………………………………………………………

d)     ………………………………………………………………………………………………

5)      Sederhanakanlah perbandingan-perbandingan berikut!

a)      18 : 72                 =…………………………………………………………………..

b)      2 : 1                  =…………………………………………………………………..

c)      25 cm : 1 cm        =………………………………………………………………….

d)     200 gr : 7 kg         =………………………………………………………………….

e)      35 menit : 1 jam  =…………………………………………………………………

6)      Jika harga 5 buah buku tulis adalah Rp.6.000,00 berapakah harga dua lusin buku tulis itu?

Jawab:

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

7)      Pada perbandingan-perbandingan berikut, a : b berbalik harga dengan p : q

a)      Jika a : b = 4 : 5 dan q = 16,hitunglah p!

b)      Jika p : q = 8 : 5 dan b = 32, hitunglah a!

Jawab:

a)      ………………………………………………………………………………………………

b)      ………………………………………………………………………………………………

8)      Seorang pekerja setiap 4 jam memperoleh upah Rp17.000,00. Berapakah upah yang diterima pekerja itu jika ia bekerja selama 7 jam?

Jawab:

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

9)      Untuk menempuh jarak dari kota T ke kota M dengan mengendarai mobil diperlukan waktu 5 jam dengan kecepatan rata-rata 72 km/jam. Berapakah waktu yang diperlukan waktu untuk menempuh jarak itu, jika ecepatan rata-ratanya 80 km/jam?

Jawab:

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

10)  Sebuah konveeksii mendapat pesanan membuat baju dengan jangka waktu 80 hari. Untuk memenuhi pesanan tersebut, konveksi itu memerlukan tenagasebanyak 315 orang. Setelah bekerja selama 25 hari pekerjaan itu berhenti selama 10 hari. Berapa banyak pekerja yang harus di tambah agar pesanan baju itu dapat diselesaikan dalam waktu yang tellah ditentukan.

Jawab:

…………………………………………………………………………………………………………

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.

>SEJARAH MATEMATIKA

>

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Dalam perubahan masa,waktu,dan zaman cabang ilmu matematika juga mengalami perubahan dalam perkembangannya.Dari abad ke abad cabang ilmu matematika mengalami perubahan.Salah satunya adalah cabang ilmumatematika tentang aljabar.Sebelum sampai kepada bentuk aljabar yang kita pelajari pada zaman sekarang,bentuk aljabar telah mengalami perkembangan dan kemajuan dari abad-abad sebelumnya.

Para ilmuan abad 16 telah berhasil menemukan dan mengembangkan ilmu tentang aljabar.Untuk itu penulis mencoba untuk membahas tentang “ MATEMATIKA ABAD 16”,untuk mengetahui perkembangan ilmu matematika tentang aljabar dari para ahli ilmuan pada abad tersebut

2. Batasan Masalah

a. Bagaimanakah bentuk-bentuk aljabar dalam lambang-lambang?

b. Bagaimanakah cara penyelesain persamaan pangkat tiga?(aljabar yang berdiri sendiri)

c. Bagaimanakah bentuk aljabar dengan menggunakan huruf?

d. Bagaimanakah cara penyelesaian persamaan derajat tinggi?

3. Tujuan Penulisan

a. Mengetahui bentuk aljabar dalam lambang

b. Mengetahui bentuk aljabar yang berdiri sendiri atau cara menyelesaikan persamaan pangkat tinggi

c. Mengetahui bagaimana menyusun aljabar dengan menggunakan huruf

d. Mengetahui cara menyelesaikan soal persamaan derajat tinggi

Matematika abad 16

1. Menuju Aljabar dengan Lambang-lambang

Robert Recorde (± 1510-1558) menulis karya dalam aljabar,geometri dan astronomi.th 1557 ia menulis aljabar dengan judul “THE WHETSTONE OF DE WITTE”,dala buku ini pertama kali digunakan lambang “=” untuk kesamaan yang digunakan zaman sekarang.

Christoff Rudolf (±1525) menulis buku aljabar dengan judul “DIE COSS”,dalam buku ini dikenalkan lambang “

Michael Stifel (1486-1567),seorang biarawan jerman,menerbitkan buku dengan judul “ARITHMATICA INTEGRA” pada tahun 1553.dalam buku ini menguraikan bilangan rasional,irasional,deret aritmatika,deret geometri dan koofesien binomial hingga pangkat ke tujuh.

Dalam buku itu memakai lambang +,-,dan sebagai operasi hitung dan memakai huruf untuk yang tidak diketahui.

2. Aljabar yang berdiri sendiri

Spione del Ferro (1465-1526) pada th menulis persamaan pangkat tiga x³ + mx = n,tetapi tidak menerbitkannya.

Tartaglia (1499-1557) lahir di Brescia Italia,putra seorang petani miskin.pada serbuan perancis ke italia ia disiksa sehingga tak dapat berbicara dengan baik.pada tah penemuannya menyelesikan persamaan pangkat tiga dalam bentuk x³ + px² = n.

Girolamo Cardano ( 1501-1576) menulis arimatika,asronomi,fisika.karyanya yang paling terkenal mengenai aljabar dengan judul “ARS MAGNA”,ditulis pada tahun 1545,dalam buku ini di muat hasil penemuan Tartaglia untuk menyelesaikan persamaan pangkat 3.

Penyelesaian persamaan kuadrat sudah mengikutsertakan akar-akar negatif.ia sudah menghitung dengan bilangan imajiner,menghitung akar persamaan dengan pendekatan tertentu.metode menyelesaikan persamaan x³ + mx = n dikerjakan sebagai berikut :

(a-b)³ +3ab(a-b) =a³ – b³

Jika dipilih 3ab = m,a³ – b³ = n dan a – b = x

3ab = m,b =m/3a maka a³ – b³ =a³ – ( m/3a)³= n

a⁶ – (m/3 )³ = n a ³ => (a³)² – na³ – (m/3)³= 0

a³ = n ± √n² + 4 (m/3)³

2

a= ³√ (n/2) + √(n/2)² + (m/3)

dengan cara sama ditentukan

³√-(n/2) +(n/2)² = (m/3)³

Pada tahun 1540 Zuanne de Tonini da Coi mengajukan soal kepada cardano yang menghasilkan persamaan pangkat empat,tetapi ia tak dapat menyelesaikannya.Ferrari berhasil menyelesaikan persamaan itu ialah:

x +px² +qx + r = 0

x + 2px² + p² = px² – qx- r+ p²

(x² + p)² = px² – qx + p² – r

Dibentuk lagi persamaan

( x + p+ y ) = px² + qx + p² – r -2y(x² + p) + y²

= (p + 2y)x + qx + (p² – r + 2py + y² ) = 0

Supaya ruas kanan menjadi kuadrat sempurna harus dipenuhi:

q² – 4(p+2y)( p² – r – 2py + y² ) = 0

q² – 4p³ + 4pr -8p²y -4y² – 8p³y + 8ry – 16py² – 8y³ = 0

8y³ + (4+16p)y³ +(8p²-8p³-8r)y -q² +4p³ – 4pr = 0

8y³+ (8p²-8p³-8r) + (4p³-4pr-q²) = 0

Rafael Bombelli menulis aljabar (1572).ia menulis syarat penyelesaian persamaan pangkat tiga x³ + mx = n.

Jika (n/2)² + (m/3)³ < 0 ,maka penyelesaian pangkat tiga itu mempunyai tiga akar real,ia memperbaiki notasi penulisan aljabar ahli sebelunya.ia menggunakan tanda kurung dengan lambang ‘L˩”.Bombelli membedakan penulisan akar pangkat dua dengan Rq dan akar pangkat tiga dengan Rc.

Untuk menulis akar dari bilangan negatif misalnya √-2 ditulis dengan “dim Rg 11 “

Misalnya Bombelli akan menulis

³√5 + √-2 sebagai Rc L5p di m Rq 2˩

3. Aljabar menggunakan huruf

Francois Viete ( 1540-1630) ia menulis buku trigonometri pada tahun 1579 dengan judul “CANON MATHEMATICUS SEU AD TRIANGULA”.Ia menyatakan cos n Ө , n =1,2,…,9 dengan cosƟ.

Sebelum viete lambang penulisan pangkat yang berbeda ditulis dengan huruf berbeda walau basisnya sama.ia sudah memakai lambang + dan -,tetapi belum memakai lambang untuk sama dengan.untuk A² ditulis A quad,A³ di tulis A cub,dst.

4. Persamaan derajat tinggi

Metode Vitae terhadap persamaan kuadrat x² +mx = n,dikerjakan sebagai berikut:

Andaikan x pendekatan salah satu akarnya,x + x₂ pendekatan,maka:

(x₁ + x₂)² + m(x + x₂) = n

x² + 2x₁x₂ + mx₁ + mx₂ = n

bila x₂ demikian kecil sehingga x₂² dapat di abaikan,sehinnga diperoleh

x₁² + 2x₁x₂ + mx₁ + mx₂ = n

x₂(2x₁ + m) = n – x₁² – mx₁ atau

x₂ = m – x₁² -2mx₁

2x₁ + m

Persamaan x³ + 3ax = 2ab diselesaikan sebagai berikut:

Misal x =a/y – y,maka

(a/y – y³) + 3a (a/y – y) =2b

a³/y³ – 3 a²/y².y + 3 a/y.y² -y³ + 3a²/y – 3ay = 2b

a³/y³ – 3a²/y +3ay -y³ +3a²/y – 3ay = 2bx

a³ – y⁶ = 2by³ – a³

(y³)² +2b(y)³ = a³

Direduksi menjadi peramaan kuadrat dalam y³ kemudian diselesaikan untuk x.

Ferrari (1522-1565) menyelesaikan pangkat empat dalam bentuk:

x⁴ + ax² + bx = c atau x⁴ = c – ax² – bx

cara Ferrari adalah sebagai berikut:

pada ruas kiri dan kanan ditambah x²y² + y⁴/4 maka

x⁴ + x²y² + y⁴/4= x²y² +y⁴/4 – ax² + bx + c

(x² + y²/2)² = (y² – a)x² -bx + y⁴/4 + c)

Dipilih y sehinnga ruas kanan menjadi kuadrat sempurna,yaitu bila dipenuhi

b² – 4(y² -a )(y⁴/4 + c) atau

y⁶ – ay⁴ + 4cy² = 4ac + b²

5. Mengakiri abad 16

Simon Stevin (1548-1620) dari belanda menulis aritmatika menulis tentang pecahan desimal,statistik dan hidrostatika.

Nicolas Copernicus (1473-1543) dari polandia menulis teori alam semesta,menulis perbaikan trigonometri.

George Joachim Rhaeticus(1514-1575) murid covernicus , ia menyusun tabel trigonometri dan 6 fungsi dalam interval detik

Rhaeticus mendefenisikan fungsi trigonomtri dinyatakan dengan segitiga siku-siku.

Pada akhir abad 16,perkembangan matematika sudah meletakkan dasar perkembangan selanjutnya yang cepat pada abad 17.

>RESENSI BAHASA INDONESIA

>

RESENSI

CARA BELAJAR CERDAS DAN EFEKTIF

BUKAN KERAS DAN MELELAHKAN

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Terstruktur

Dalam Mata Kuliah Administrasi Pendidikan

n96401928776_265

F I J R A

NIM: 2409. 038

Dosen Pembimbing

ULVA RAHMI, S.Ag. M.Pd

JURUSAN TARBIYAH

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAIN)

SJECH M. DJAMIL DJAMBEK

BUKITTINGGI

2010 M

Judul buku : Cara Belajar Cerdas dan Efektif Bukan Keras dan Melelahkan

Pengarang : Ahmad Muchlis Amrin

Penerbit : Garailmu

Kota terbit : Jogjakarta

Tahun terbit : 2009

Jumlah hal : 198 hal

Isi buku :

Apakah Anda merasa tidak nyaman saat harus masuk sekolah, masuk kelas, laboratorium, kursus, atau pun belajar di rumah? Anda merasa tersiksa, penat, lelah, sebal, ingin rasanya kabur dan hang out dengan teman-teman yang sekarang pastilah sedang asyik bersama?

Belajar, belajar, dan belajar! Huuhh….!! kata jelek melelahkan yang begitu ganas merampas kenyamanan dan kebahagiaan hidup Anda! Kegiatan intimidatif yang bukannya menambah cerdas, tetapi bikin bete dan illfeel!!!

Mengapa ya keadaan tak nyaman begitu sangat menguasai pikiran dan jiwa anak-anak kita saat mereka harus sekolah dan belajar? Para orang tua dan guru tentunya sangat merisaukan kondisi pelajar yang demikian itu. Sebab, belajar merupakan kegiatan produktif untuk meningkatkan pengetahuan dan kecerdasan anak-anak itu sendiri. Tidak mungkin mereka bisa pintar, kreatif, kuat, dan memiliki masa depan bagus jika mereka bodoh,tulalit. gaptek, dan tidak kreatif gara-gara mereka malas belajar.

Maka tantangannya kini ialah bagaimana menciptakan format atau pola kegiatan belajar yang disenangi dan selalu ditunggu oleh para pelajarnya.

Buku ini hadir ke hadapan kita, khususnya para orang tua dan guru memberikan “cara pandang baru” tentang bagaimana cara mendesain kegiatan belajar yang optimal tanpa terasa berat, melelahkan, dan menyebalkan di mata anak-anak kita.” Belajar yang cerdas dan efektif tetapi sekaligus menghibur”.

Dalam buku ini dijelaskan bahwa hakikat belajar itu adalah untuk mengubah cara pandang Anda yang terbelakang menjadi lebih maju. Yang pada awalnya picik menjadi lebih luas dan fleksibel. Jadi, belajar adalah suatu hal yang sangat penting dalam menentukan masa depan Anda, karana ilmu pengetahuan menjadi pangkal semua kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Untuk menciptakan suasana belajar yang efektif, Anda harus memperhatikan suasana dan lingkungan belajar Anda. Karena suasana belajar yang nyaman dan lingkungan sosial yang mendukung juga penting jika Anda ingin belajar dengan sungguh-sungguh. Jika Anda telah menemukan suasana belajar Anda yang nyaman, selanjutnya tanamkanlah dalam diri Anda bahwa keinginan belajar itu datang dalam diri Anda, bukan karena paksaan dari orang lain. Belajarlah karena keinginan Anda sendiri untuk menggapai ilmu pengetahuan yang setinggi-tingginya. Ilmu yang tinggi akan berpengaruh pada cara berfikir dan cara kerja Anda.

Cara belajar Anda yang serius, santai, dan tanpa melelahkan, akan menciptakan sebuah suasana yang baik dalam diri Anda. Anda akan merasa yakin dan percaya diri akan berhasil mewujudkan cita-cita Anda walaupun Anda memiliki cit-cita setinggi langit. Belajar santai tidak akan membuat Anda pusing dengan berbagai materi pelajaran yang dihadapkan pada Anda. Anda tidak akan bingung dengan tugas-tugas sekolah yang bergelimang di hadapan Anda. Adapun cara belajar yang santai tapi efektif itu adalah, belajar sambil bermain, membaca buku di kafe, belajar sambil mendengarkan musik, berkemah, berkunjung ke tempat-tempat bersejarah.

Selanjutnya dalam buku ini juga dijelaskan bahwa “belajar bukanlah kegiatan militer” yang membutuhkan ketegangan fisik, kekerasan urat nadi, dan kemarahan. Guru harus menghindari perlakuan-perlakuan yang bisa membuat murid menjadi tertekan. Guru tidak dibenarkan memarahi murid dengan kata-kata yang tidak sopan dan kurang baik. Perkataan guru adalah lambang kesopanan dan penuh etika. Oleh sebab itu belajar yang santai dan berwibawa yang dibangun oleh sang guru bisa membawa semangat baru bagi siswa.

Selanjutnya bagi Anda nikmatilah proses belajar Anda, belajarlah dengan cara-cara yang bisa Anda nikmati agar anda tidak merasa tertekan. Karena banyak sekali manfaat yang akan anda peroleh dengan menerapkan metode belajar yang efektif, cerdas, tanpa tekanan dan tidak melelahkan. Diantaranya adalah Anda akan selalu optimis untuk menggapai cita-cita , dapat menghadapi tantangan kehidupan dengan santai dan efektif, cita-cita tertata dengan rapi, memiliki sifat kemanusiaan, dan Anda akan menikmati hidup yang tenang.

Jadi Anda bisa memilih, Apakah Anda akan belajar dengan cara tertekan atau justru Anda akan menikmati hidup Anda dengan cara belajar yang santai, efektif dan tidak tertekan? Jawablah dengan hati Anda.

Kelebihan:

  1. Informatif, lengkap danlogis
  2. kalimat yang digunakan sederhana sehingga mudah untuk dipahami
  3. Contohnya dekat dengan kehidupan sehari-hari
  4. Cover buku menarik

Kekurangan:

Kurangnya gambar-gambar yang dapat lebih mendukung isi buku.

Dalam buku ini juga dibahas tentang cara belajar yang santai tapi efektif. Dengan menerapkan cara-cara belajar yang santai dan tidak tertekan, Anda akan menjadi orang yang sukses dalam belajar. Adapun cara belajar yang santai tapi efektif itu adalah, belajar sambil bermain, membaca buku di kafe, belajar sambil mendengarkan musik, berkemah, berkunjung ke tempat-tempat bersejarah. Ada banyak cara untuk mempelajari tempat-tempat bersejarah. Dua diantaranya adalah mengunjungi tempat itu secara lansung dan mencari informasi melalui media cetak maupun elektronik.

Selanjutnya dalam buku ini juga dijelaskan bahwa “belajar bukanlah kegiatan militer” yang membutuhkan ketegangan fisik, kekerasan urat nadi, dan kemarahan. Kalau Anda seorang pelajar, maka Anda akan merasakan sendiri bagaimana kalau guru Anda bersikap kasar pada Anda. Ada tiga bentuk kekerasan yang pernah dilakukan oknum guru pada anak didiknya, yaitu membentak, memukul, dan mengusir. Seorang guru yang yang mencintai muridnya tentu tidak akan memperlakukan muridnya dengan cara sperti itu

Jika pendidikan dilakukan tanpa ada kekerasan baik kekerasan psikis maupun fisik, banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan, diantaranya adalah murid akan merasa nyaman dan merasa tidak tertekan.

>

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam pembelajaran matematika sebenarnya telah banyak upaya yang dilakukan oleh guru kelas untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Namun usaha itu belum menunjukan hasil yang optimal. Rentang nilai siswa yang pandai dengan siswa yang kurang pandai terlalu mencolok. Untuk itu perlu diupayakan pula agar rentang nilai antar siswa tersebut tidak terlalu jauh yaitu dengan memanfaatkan siswa yang pandai untuk menularkan kemampuannya pada siswa lain yang kemampuannya lebih rendah. Tentu saja guru yang menjadi perancang model pembelajaran harus mengubah bentuk pembelajaran yang lain.
Pembelajaran tersebut adalah pembelajaran tutor sebaya.Sisi lain yang menjadikan matematika dianggap siswa pelajaran yang sulit adalah bahasa yang digunakan oleh guru. Dalam hal tertentu siswa lebih paham dengan bahasa teman sebayanya daripada bahasa guru.

Kemudian Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran matematika yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai cara penyelesaian. Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu dikembangkan keterampilan memahami masalah.

Dari latar belakang yang telah disebutkan di atas maka penulis tertarik untuk membahas model dari pembelajaran matematika yaitu tentang “Tutor Sebaya dan Problem Solving”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka rumusan permasalahannya adalah:

1. Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran tutor sebaya?

2. Bagaimana prosedur/langkah-langkah pelaksanaan tutor sebaya

3. Apa keunggulan dan kelemahan dari model pembelajaran tutor sebaya ?

4. Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran problem solving?

5. Apakah hakikat masalah dalam problem solving?

6. Bagaimanakah langkah-langkah pelaksanaan problem solving?

7. Apa keunggulan dan kelemahan dari model pembelajaran problem solving?.

C. Tujuan Masalah

1. Untuk mengetahui maksud dari model pembelajaran tutor sebaya

2. Untuk mengetahui prosedur/langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran tutor sebaya

3. Untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan model pembelajaran tutor sebaya

4. Untuk mengetahui maksud dari model pembelajaran problem solving

5. Untuk mengetahui hakikat masalah dalam problem solving

6. Untuk mengetahui langkah-langkah pelaksanaan dari model pembelajaran problem solving

7. Untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan dari model pembelajaran problem solving.

BAB II

MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA

A. PENGAJARAN TEMAN SEBAYA

Untuk meningkatkan keberhasilan suatu program pengajaran di sekolah tidak hanya disebabkan oleh satu macam faktor saja, tetapi dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor yang dapat menunjang keberhasilan. Begitu juga dengan sumber belajar, sumber belajar bukan hanya guru. Orang lain yang bukan guru juga dapat dijadikan sebagai sumber belajar, seperti teman sekelas, teman dari kelas yang lebih tinggi atau keluarga di rumah.

Sumber belajar yang bukan guru dan berasal dari orang yang lebih pandai disebut tutor. Tutor dibagi pula menjadi dua macam, yaitu tutor sebaya dan tutor kakak. Tutor sebaya adalah teman sebaya yang lebih pandai, dan tutor kakak adalah tutor dari kelas yang lebih tinggi. Ada beberapa pendapat mengenai tutor sebaya, diantaraya adalah:

Dedi Supriyadi (1985, h. 36) mengemukakan bahwa:

“Tutor sebaya adalah seorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk dan ditugaskan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Tutor tersebut diambil dari kelompok yang prestasinya lebih tinggi”.

Ischak dan Warji (1987, h.44) mengemukakan bahwa:

“Tutor sebaya adalah kelompok siswa yang telah tuntas terhadap bahan pelajaran, memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami bahan pelajaran yang dipelajarinya”.

Sedangkan Conny Semiawan, dkk. (1987, h.70) mengemukakan bahwa tutor sebaya itu adalah: “siswa yang pandai dapat memberikan bantuan belajar kepada siswa yang kurang pandai. Bantuan tersebut dapat dilakukan kepada teman-teman sekelasnya di luar sekolah”.

Jadi secara umum tutor sebaya ialah sumber belajar selain guru, yaitu teman sebaya yang lebih pandai yang memberikan bantuan belajar kepada teman-teman sekelasnya di sekolah.

Prosedur penyelenggaraan tutor sebaya1

a. Oval: muridStudent to tutor

Oval: murid
Oval: murid

Oval: tutorrrrrrrror[1]

Oval: murid

b. Group to tutor

c. Oval: muridStudent to student

Tutor Sebaya dikenal dengan pembelajaran teman Sebaya atau antar peserta didik, hal ini bisa terjadi ketika peserta didik yang lebih mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan kemudian membantu peserta didik lain yang kurang mampu. Metode ini banyak sekali manfaatnya baik dari sisi siswa yang berperan sebagai tutor maupun bagi siswa yang diajarkan. Peran guru adalah mengawasi kelancaran pelaksanaan metode ini dengan memberi pengarahan dan lain-lain.

Tutor Sebaya merupakan salah satu strategi pembelajaran untuk membantu memenuhi kebutuhan peserta didik. Ini merupakan pendekatan kooperatif bukan kompetitif. Rasa saling menghargai dan mengerti dibina di antara peserta didik yang bekerja bersama.[2]

Tutor Sebaya akan merasa bangga atas perannya dan juga belajar dari pengalamannya. Hal ini membantu memperkuat apa yang telah dipelajari dan diperolehnya atas tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Ketika mereka belajar dengan “Tutor Sebaya”, peserta didik juga mengembangkan kemampuan yang lebih baik untuk mendengarkan, berkonsentrasi, dan memahami apa yang dipelajari dengan cara yang bermakna. Penjelasan Tutor Sebaya kepada temannya lebih memungkinkan berhasil dibandingkan guru. Peserta didik melihat masalah dengan cara yang berbeda dibandingkan orang dewasa dan mereka menggunakan bahasa yang lebih akrab.

Bantuan belajar oleh teman sebaya yang lebih pandai dapat menghilangkan kecanggungan dan bahasa teman sebaya lebih mudah dipahami. Dengan teman sebaya tidak ada rasa enggan, rendah diri, malu, dan sebagainya untuk bertanya atau meminta bantuan.[3]

Dalam penggunaan metode pembelajaran tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan, seperti halnya tutor sebaya. Uraian di atas adalah beberapa kelebihan dari metode tutor sebaya sementara kekurangan metode ini antara lain:

1. Tidak semua siswa dapat menjelaskan kepada temannya.

2. Tidak semua siswa dapat menjawab pertanyaan temannya.[4]

Menurut Hisyam Zaini (2001:1) (dalam Amin Suyitno, 2004:34) maka langkah-langkah pelaksanaan metode tutor sebaya adalah sebagai berikut:

1. Pilih materi yang memungkinkan materi tersebut dapat dipelajari siswa secara mandiri. Materi pengajaran dibagi dalam sub-sub materi (segmen materi). Misalnya siswa diberi soal latihan tentukan KPK dan FPB dari pasangan bilangan 24 dan 18, maka segmen materi yang diberikan adalah sebagai berikut. Kelipatan dari 24 adalah : 24, 48,…,…,(diisi oleh siswa) , Kelipatan dari 18 adalah : 18, 36,…,…,(diisi oleh siswa). Faktor dari 24 adalah : …,…,…,(diisi oleh siswa). Faktor dari 18 adalah : …,…,…,(diisi oleh siswa)

2. Bagilah para siswa menjadi kelompok-kelompok kecil yang heterogen, sebanyak sub-sub materi yang akan disampaikan guru. Siswa-siswa pandai disebar dalam setiap kelompok dan bertindak sebagai tutor sebaya.

3. Masing-masing kelompok diberi tugas mempelajari satu sub materi. Setiap kelompok dibantu oleh siswa yang pandai sebagai tutor sebaya.

4. Beri mereka waktu yang cukup untuk persiapan, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

5. Setiap kelompok melalui wakilnya menyampaikan sub materi sesuai dengan tugas yang telah diberikan. Guru bertindak sebagai nara sumber utama.

6. Setelah semua kelompok menyampaikan tugasnya secara barurutan sesuai dengan urutan sub materi, beri kesimpulan dan klarifikasi seandainya ada pemahaman siswa yang perlu diluruskan.

Dari uraian tersebut di atas selanjutnya dapat dikembangkan dalam bentuk soal yang lain untuk dijadikan bahan pembelajaran dalamkelompokkelompok kecil. Dengan demikian oleh model pembelajaran ini dalam diri siswa akan tertanam kebiasaan saling membantu antar teman sebaya.[5]

B. PROBLEM SOLVING

1. Konsep Dasar SPBM atau Problem Solving

Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (SPBM) atau yang dikenal dengan istilah Problem Solving adalah suatu cara mengajar dengan mengahadapkan siswa kepada suatu masalah agar dipecahkan atau diselesaikan. Metode ini menuntut kemampuan untuk melihat sebab akibat, mengobservasi problem, mencari hubungan antara berbagai data yang terkumpul kemudian menarik kesimpulan yang merupakan hasil pemecahan masalah.

Untuk mengaplikasikan SPBM, guru perlu memilih bahan pelajaran yang memiliki permasalahan yang dapat dipecahkan. Guru bisa mengambil permasalahan tersebut dari buku teks atau dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar, dari peristiwa keluarga atau peristiwa kemasyarakatan.

Adapun strategi pembelajaran dengan pemecahan masalah dapat diterapkan:

1. Manakala guru menginginkan agar siswa tidak hanya sekedar dapat mengingat materi pelajaran, akan tetapi menguasai dan memahaminya secara penuh.

2. Apabila guru bermaksud untuk mengembangkan keterampilan berpikir rasional siswa, yaitu kemampuan menganalisis situasi, menerapkan pengetahuan yang mereka miliki dalam situasi baru, mengenal adanya perbedaan antara fakta dan pendapat.

3. Manakala guru menginginkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah serta membuat tantangan intelektual siswa.

4. Jika guru ingin mendorong siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajarnya.

5. Jika guru ingin agar siswa memahami hubungan antara apa yang dipelajari dengan kenyataan dalam kehidupannya (hubungan antara teori dengan kenyataan).[6]

2. Hakikat Masalah dalam SPBM

Antara strategi pembelajaran inkuiri (SPI) dan strategi pembelajaran berbasis masalah (SPBM) menmiliki perbedaan. Perbedaan tersebut terletak pada jenis serta tujuan yang ingin dicapai. Masalah dala SPI adalah masalah yang bersifat tertutup. Artinya, jawaban dari masalah itu sudah pasti, oleh sebab itu jawaban dari masalah yang dikaji itu sebenarnya guru sudah mengetahui dan memahamiya, namun guru tidak secara lansung menyampaikannya kepada siswa . Tugas guru menggiring siswa melalui proses tanya jawab kepada jawaban yang sebenarnya sudah pasti. Tujuan yang ingin dicapai oleh SPI menumbuhkan keyakinan dalam diri siswa tentang jawaban dari suatu masalah.

Berbeda dengan SPI, masalah dalam SPBM adalah masalah yang bersifat terbuka. Artinya jawaban dari masalah tersebut belum pasti. Setiap siswa, bahkan guru, dapat mengembangkan kemungkinan jawaban. Dengan demikian, SPBM memberikan kesempatan pada siswa untuk bereksplorasi mengumpulkan dan menganalisis data secara lengkap untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Tujuan yang ingin dicapai oleh SPBM adalah kemampuan siswa untuk berpikir kritis, analitis, sistematis, dan logis untuk menemukan alternatif pemecahan masalah melalui eksplorasi data secara empiris dalam rangka menumbuhkan sikap ilmiah.

Hakikat masalah dalam SPBM adalah gap atau kesenjangan antara situasi nyata dan kondisi yang diharapkan, atau antara kenyataan yang terjadi dengan apa yang diharapkan. [7]

Problem yang dihadapkan kepada murid harus mengandung kesulitan baik yang bersifat psikis atau fisik. Maksudnya persoalan itu memerlukan otak/otot untuk dapat memecahkannya. Problem atau masalah yang dihadapkan kepada siswa itu hendaknya:

1. Jelas, bersih dari kesalahan dan tidak memiliki dua pengertian yang berbeda.

2. Sesuai dengan kemampuan anak, tidak terlalu mudah dan juga tidak terlalu sulit sehingga tidak bisa dipecahkan oleh para siswa.

3. Menarik minat anak.

4. Sesuai dengan pelajaran anak diwaktu yang lalu, sekarang maupun dimasa mendatang.

5. Praktis dalam arti mungkin dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.[8]

3. Tahapan-tahapan SPBM

Seorang ahli pendidikan berkebangsaan Amerika menjelaskan 6 langkah SPBM yang kemudian dia namakan metode pemecahan masalah (problem solving), yaitu:

a. Merumuskan masalah, yaitu langkah siswa menentukan masalah yang akan dipecahkan.

b. Menganalisis masalah, yaitu langkah siswa meninjau masalah secara kritis dari berbagai sudut pandang.

c. Merumuskan hipotesis, yaitu langkah siswa merumuskan berbagai kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.

d. Mengumpulkan data, yaitu langkah siswa mencari dan menggambarkan informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah.

e. Pengujian hipotesis, yaitu langkah siswa mengambil atau merumuskan kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan.

f. Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah, yaitu langkah siswa menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.

Sesuai dengan tujuan SPBM adalah untuk menumbuhkan sikap ilmiah, dari beberapa bentuk SPBM yang dikemukakan oleh para ahli maka secara umum SPBM bisa dilkukan degan langkah-langkah:

a. Menyadari Masalah

Implementasinya SPBM harus dimulai dengan kesadaran adanya masalah yang harus dipecahkan. Pada tahapan ini guru membimbing siswa pada kesadaran adanya masalah yang harus dipecahkan. Pada tahapan ini guru membimbing siswa pada kesadaran adanya kesenjangan atau gap yang dirasakan oleh manusia atau lingkungan sosial. Kemampuan yang harus dicapai oleh siswa pada tahapan ini adalah siswa dapat menentukan atau menangkap kesenjangan yang terjadi dari berbagai fenomena yang ada.

b. Merumuskan Masalah

Rumusan masalah sangat penting, sebab selanjutnya berhubungan dengan kejelasan dan kesamaan persepsi tentang masalah dan berkatian dengan data-data apa yang harus dikumpulkan untuk menyelesaikannya. Kemampuan yang diharapkan dari siswa dalam tahap ini adalah siswa dapat menentukan prioritas masalah. Siswa dapat memanfaatkan pengetahuannya untuk menguji, memerinci, dan menganalisis masalah sehingga pada akhirnya muncul rumusan masalah yang jelas, spesifik, dan dapat dipecahkan.

c. Merumuskan Hipotesis

Kemampuan yang diharapkan dari siswa dalam tahap ini adalah siswa dapat menentukan sebab akibat dari masalah yang ingin diselesaikan, yang pada akhirnya siswa dapat menentukan berbagai kemungkinan dari penyelesaian masalah tersebut.

d. Mengumpulkan Data

Menentukan cara penyelesaian masalah sesuai dengan hipotesis yang diajukan harus sesuai dengan data yang ada. Oleh karena itu pada tahapan ini siswa didorong untuk mengumpulkan data yang relevan. Mengumpulkan dan memilah data, kemudian memetakan dan menyajikan dalam berbagai tampilan sehingga mudah dipahami.

e. Menguji Hipotesis

Berdasarkan data yang diterima dan ditolak siswa dapat menentukan hipotesis mana yang diterima dan hipotesis mana yang ditolak. Kemampuan siswa yang diharapkan dalam tahapan ini adalah kecakapan menelaah data dan sekaligus membahasnya untuk melihat hubungannya dengan masalah yang dikaji.

f. Menentukan Pilihan Penyelesaian

Ini merupakan tahap terakhir dari proses SPBM. Kemampuan yang diharapkan dari tahapan ini adalah kecakapan memilih alternatif penyelesaian yang memungkinkan dapat dilakukan serta dapat memperhitungkan kemungkinan yang akan terjadi sehubungan dengan alternatif yang dipilihnya.[9]

4. Keunggulan dan Kelemahan SPBM

a. Keunggulan

Sebagai suatu strategi pembelajaran, SPBM memiliki beberapa keunggulan, diantaranya:

1) Pemecahan masalah (problem solving) merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.

2) Pemecahan masalah (problem solving) dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.

3) Pemecahan masalah (problem solving) dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.

4) Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.

5) Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.

6) Melalui pemecahan masalah (problem solving) bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran (matematika, IPA, sejarah, dan lain-lain), pada dasarnya merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekadar belajar dari guru atau dari buku-buku saja.

7) Pemecahan masalah (problem solving) dianggap lebih menyenangkan dan disukai oleh siswa.

8) Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis.

9) Pemecahan masalah (problem solving) dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.

10) Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus-menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.

b. Kelemahan

Di samping keunggunlan, SPBM juga memiliki kelemahan, di caranya:

1) Manakala siswa tidak memiliki minat atau kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.

2) Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.

3) Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.[10]

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Secara umum tutor sebaya ialah sumber belajar selain guru, yaitu teman sebaya yang lebih pandai yang memberikan bantuan belajar kepada teman-teman sekelasnya di sekolah.

2. Prosedur penyelenggaraan tutor sebaya ada 3 macam:

a) Student to tutor

b) Group to tutor

c) Student to student

3. Problem Solving adalah suatu cara mengajar dengan mengahadapkan siswa kepada suatu masalah agar dipecahkan atau diselesaikan.

4. Hakikat masalah dalam SPBM adalah gap atau kesenjangan antara situasi nyata dan kondisi yang diharapkan, atau antara kenyataan yang terjadi dengan apa yang diharapkan.

5. Secara umum SPBM bisa dilkukan degan langkah-langkah:

a) Menyadari masalah

b) Merumuskan masalah

c) Merumuskan hipotesis

d) Menguji hipotesis

e) Menentukan pilihan penyelesaian.

6. Keunggulan dan kelemahan SPBM (problem solving)

a. Keunggulan

1) Problem solving merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.

2) Problem solving dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.

3) Problem solving dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.

4) Problem solving dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.

5) Problem solving dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.

6) Problem solving bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran,pada dasarnya merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekadar belajar dari guru atau dari buku-buku saja.

7) Problem solving dianggap lebih menyenangkan dan disukai oleh siswa.

8) Problem solving dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis.

9) Problem solving dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.

10) Problem solving dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus-menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan Di samping keunggunlan, SPBM juga memiliki kelemahan, di caranya:

11) Manakala siswa tidak memiliki minat atau kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan formal telah berakhir.

b. Kelemahan

1) Manakala siswa tidak memiliki minat atau kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.

2) Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.

3) Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.

B. Saran

Demikianlah makalah ini penulis sampaikan. Mudah-mudahan dapat menambah pengetahuan pembaca tentang model pembelajaran matematika yaitu tentang tutor sebaya dan problem solving. Namun penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk perbaikan dimasa yang akan datang.



[1] Tim MKPBM,Srategi Pembelajaran Matematika Kontemporer,(2001,Bandung;JICA.Universitas Pendidikan Indonesia) hal 233

[3]Tim MKPBM Op.cit

[4]http/dossuwanda.Op.cit

[6] Wina Sanjana,Strategi Pembelajaran Berorientasi standar dan Proses Pendidikan,(2006,Bandung,Prenda Media Grup) hal 215

[7] ibid

[8] Suriyono,Teknik Belajar Mengajar dalam CBSA,(1992,Jakarta, PT. Rineka Cipta), hal 87

[9] sanjana, wina Op.cit

[10] ibid

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.